• kompressupj

Keresahan Masyarakat Terkait Pembengkakan Tarif Listrik


Pada masa Pandemi Covid-19 tidak hanya aktivitas yang terganggu, tetapi perekonomian juga menjadi terhambat. Banyak keluarga yang terkena dampak dari pandemi ini. Mulai dari pendapatan yang berkurang bahkan sampai kehilangan pekerjaan. Perusahaan besar banyak yang harus memberhentikan karyawannya karena tidak sanggup untuk membayar gaji untuk para karyawannya. PHK (pemutus hubungan kerja) terjadi besar-besaran saat masa pandemi ini, akibatnya banyak kepala keluarga yang tidak mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. 


Memenuhi kebutuhan pangan saja sulit, bagaimana jika tagihan tarif listrik menjadi mahal? Tidak terbayangkan untuk beberapa keluarga yang kesulitan ekonomi. Beberapa hari belakangan ini masyarakat dikagetkan dengan tarif listrik yang membengkak. Kenaikan listrik ini langsung menuai protes dari semua kalangan. Hingga PLN kebanjiran pengaduan dari masyarakat. Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril yang menyatakan, hingga saat ini pihaknya telah menerima aduan dari 65.786 pelanggan di seluruh Indonesia. Jumlah itu diprediksi akan terus bertambah. "Posko pengaduan khusus tagihan yang dibuka untuk seluruh Indonesia sampai saat ini menerima keluhan 65.786 pelanggan, per jam ini ya, karena nanti ini naik terus," ucap Bob melalui Liputan 6 dalam diskusi online, Kamis (11/6/2020).


Pihak PLN mengaku tidak pernah menaikan tarif biaya listrik sejak tahun 2017. PLN mengklaim bahwa kenaikan tarif biaya ini faktor pemakaian pelanggan sendiri. "Yang kita catat itu murni dipakai pelanggan. Kenaikan ini murni disebabkan kenaikan pemakaian ditambahkan carry over karena PSBB petugas enggak bisa catat meteran," ujar Bob dalam diskusi virtual, Kamis (11/6/2020) kata Bob melalui Liputan 6. Petugas PLN yang bertugas selama pandemi ini menyatakan bahwa, tagihan listrik ini berdasarkan angka stand meter rata-rata 3 bulan terakhir. Hal ini disebabkan karena sejak bulan Maret 2020 petugas tidak mencatat meteran secara manual guna mencegah covid-19. 


Kenaikan penggunaan listrik pada bulan Maret dan April beberapa pelanggan tidak tercatat oleh PLN pada tagihan di bulan April dan Mei. Hal tersebut yang mengakibatkan adanya kekurangan pembayaran pada rekening April dan Mei. Kekurangan inilah yang akhirnya dimasukan PLN ke dalam tagihan rekening Juni. Akan tetapi pihak PLN mengatakan bahwa kenaikan ini murni karena PSBB. PLN sangat mengerti mengapa masyarakat resah terhadap tarif listrik ini, PLN mengerti di masa pandemi ini perekonomian sangat berat. Oleh karena itu pada bulan Mei petugas sudah mulai melakukan pengecekan meter ke rumah-rumah untuk memberikan yang terbaik untuk para pelanggan. "Kami memahami kondisi ini seolah bertubi-tubi membebani masyarakat Jakarta. Tapi kami sudah memberikan upaya terbaik seperti menerobos zona-zona merah untuk memastikan keandalan terjaga," Ucap Doddy B Pangaribuan selaku General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya melalui Detik.com


PSBB ini menjadi salah satu faktor kenaikan tarif biaya listrik di Indonesia. Selama 3 bulan lebih kita berada dirumah saja. Bekerja dilakukan dirumah atau work from home yang di mana memerlukan wifi yang menggunakan listrik lalu menggunakan AC (air conditioner) seharian. Memerlukan listrik seharian untuk memberikan daya isi untuk laptop atau gawai. Bulan ramadhan juga menjadi faktor kedua kenaikan tarif listrik. Selama bulan ramadhan kita melalukan sahur dan bangun pada dini hari berbeda dengan bulan lainnya. Pemakaian listrik pun menjadi lebih awal dan dilakukan selama sebulan. 


Penulis : Alya Iasha 

Editor : Naurissa B

50 views4 comments