• kompressupj

Jurnalisme Data, Sebuah Harapan di Tengah Tsunami Informasi

Oleh: Isti Purwi Tyas Utami

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Jaya


Memilih informasi yang tepat sering kali menjadi sebuah pekerjaan yang sulit. Sumber Foto: Unsplash

Setiap jaman dalam peradaban manusia memiliki teknologinya sendiri karena sejatinya teknologi tidak pernah mandeg, tidak terkecuali dengan teknologi komunikasi. Terlepas dari perubahan yang terjadi di bidang teknologi komunikasi, tugas utama seorang jurnalis tidak pernah berubah. Jurnalis sebagai pekerja etis tidak ubahnya seperti seorang filsuf dan peneliti, selalu bertugas mencari kebenaran yang dapat diverifikasi. Yang senantiasa berubah adalah tantangan dalam pencarian dan penyajian kebenaran di setiap jaman. Di era digital tantangan utama jurnalis adalah fakta bahwa teknologi komunikasi yang berkembang cepat memungkinkan siapapun menjadi media. Informasi yang tersiar luas tidak hanya datang dari media massa mainstream yang bereputasi namun juga datang dari media abal-abal, blog personal dan media sosial. Bill Kovach dan Rosenstiel dalam bukunya yang berjudul Blur menyebut gejala ini sebagai tsunami informasi.


Tsunami informasi terjadi ketika gelombang besar informasi melibas masyarakat kita hingga masuk ke ruang-ruang pribadi melalui telepon pintar dan perangkat komunikasi digital lainnya. Produk jurnalistik ideal harus bersaing dengan berbagai produk informasi lain yang tersiar sangat cepat karena melewatkan proses verifikasi yang ideal dalam jurnalistik. Seringkali para pembuat berita hanya mengutip inti pembicaraan seorang narasumber tanpa diuji kebenarannya, yang oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel disebut sebagai jurnalisme pernyataan.


Sangat sulit bagi produk jurnalisme ideal untuk bersaing dalam hal kecepatan. Karenanya jurnalis di jaman ini dituntut untuk dapat menyajikan transparansi informasi sebagai bentuk objektivitas baru di era digital agar tetap memenangkan kepercayaan publik. Mantan Direktur Global News Division BBC, Richard Sambrook, mengemukakan bahwa transparansilah yang menciptakan kepercayaan publik pada media sekarang ini. Benar bahwa berita tetap harus akurat dan adil, namun yang jauh lebih penting adalah khalayak luas tahu bagaimana berita diproduksi?, dari mana informasi berasal?, dan bagaimana cara kerja jurnalis?.


Era big data sesungguhnya membuka banyak peluang bagi jurnalis untuk menghasilkan karya jurnalistik yang lebih menarik, rinci sekaligus kredibel karena didasari oleh analisa data yang mendalam. Analisa yang bersumber dari sejumlah data dalam ukuran besar dan diolah sesuai dengan kebutuhan, mulai dari membuat prediksi, melihat tren tertentu, mengamati perilaku konsumen hingga kemungkinan bagi penyusunan keputusan. Model pelaporan dengan melibatkan analisis dari sekumpulan data (dataset) ini disebut dengan jurnalisme data.


Jurnalisme Data

Jurnalisme data dalam konteks analisis data digital untuk menghasilkan sebuah pelaporan seolah-olah merupakan hal yang baru dalam bidang jurnalistik. Dalam sejarah praktik jurnalisme data sesungguhnya sudah dilakukan sejak abad 17. Praktik jurnalisme data pertama kali dilakukan oleh Florence Nightingale, seorang perawat dalam perang Inggris di Krimea yang dulu adalah bagian dari Uni Soviet, sekarang Ukraina. Ia merilis data jumlah kematian tentara Inggris dalam perang itu di tahun 1858. Karya jurnalisme data yang tercatat berikutya adalah liputan pertama The Manchester Guardian mengenai biaya sekolah dan jumlah siswa di Manchester dan Salford, Inggris pada 1821.


Praktik jurnalisme data di media TV pun sudah dilakukan di tahun 1952, yakni berupa pelaporan dengan bantuan analisis data oleh komputer yang dilakukan saluran TV CBS berupa prediksi hasil pemilihan presiden. Di tahun 1960-an jurnalis Detroit Philip Meyer menggunakan jurnalisme data untuk menunjukkan bahwa bukan hanya orang-orang Selatan yang kurang berpendidikan yang terlibat dalam kerusuhan 1967 di Detroit. Di tahun 70an muncul istilah “jurnalisme presisi” untuk menjelaskan proses pengumpulan data secara ilmiah yang menggunakan statistik. Hingga akhirnya di tahun 2000an muncul terminologi “jurnalisme data” yang merujuk pada proses liputan berita berdasarkan statistik. Data disajikan pada khalayak melalui beragam bentuk seperti infografik, gambar, teks, video, peta atau bentuk apa pun yang sesuai dengan narasi data.


Media Barat yang menjadi pionir dalam praktik jurnalisme data di era media online adalah The Guardian. Di tahun 2010 mereka mengolah ribuan data perang Afganistan yang diperoleh dari Wikileaks. Media lain yang giat mengembangkan praktik jurnalisme data adalah The New York Times. Saat ini Jurnalisme data telah menjadi studi khusus di sejumlah universitas, seperti Columbia University, Stanford University, dan The University of Texas. Di Indonesia media yang mempraktikan jurnalisme data dalam peliputan investigatif yang khas adalah Tempo. Beberapa media online yang secara konsisten mempraktikan jurnalisme data saat ini antara lain Tirto.id, Katadata dan Beritagar.


Jurnalisme data menurut Alexander Howard adalah keseluruhan proses mengumpulkan, membersihkan, menganalisis, memvisualisasikan, hingga mengolahnya menjadi sebuah karya jurnalistik. Ia menyebutnya sebagai implementasi data science dalam ruang redaksi. Proses dari pelaporan jurnalisme data melibatkan dua tahapan yakni menganalisis data untuk memahami konteks cerita serta memvisualisasikan data dan temuan. Keunggulan praktik jurnalisme data tersebut dapat menjadi alternatif solusi bagi jurnalis untuk dapat menyajikan kebenaran dengan cara yang up to date di tengah terjangan tsunami informasi. Adanya peralihan peran jurnalis dari pewarta pertama pada jurnalis yang menyampaikan realitas sebenarnya melalui pendalaman data sesuai dengan kebutuhan berita pun akan memperkuat kepercayaan khalayak.


Praktik jurnalisme data di era internet pun memungkinkan kolaborasi jurnalis dari berbagai negara dalam menjawab berbagai isu global dalam bentuk analisis data mendalam. Salah satu contoh karya jurnalistik data yang cukup mencengangkan publik global adalah investigasi Panama Papers. Investigasi berdasarkan jutaan dokumen keuangan sebuah firma hukum di Panama yang mengindikasikan korupsi global ini melibatkan wartawan dari berbagai negara yang tergabung dalam The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Karya jurnalistik data ini melibatkan 376 jurnalis dari 109 media dan salah satu diantaranya adalah jurnalis dan media asal Indonesia.


Persoalan Etika dalam Jurnalisme Data

Praktik jurnalisme data sangat mengandalkan kekuatan data dalam menemukan kebenaran. Profesionalitas jurnalis dalam menjalankan praktik jurnalisme data di setiap tahapannya sangat menentukan kualitas kebenaran analisis data. Setiap tahapan memiliki pertimbangan etis tersendiri. Nilai-nilai etika yang menjadi dasar pertimbangan dalam jurnalisme data pada dasarnya tidak berbeda secara signifikan dari jurnalisme pada umumnya.


Dalam tahap pemillihan data set jurnalis harus menilai sungguh asal dan isi data terutama dalam hal validitasnya. Saat melakukan analisis data, akurasi melalui pemeriksaan yang cermat untuk menghindari bias dan sikap tidak kritis dalam melihat data menjadi sangat penting. Selain itu, sangat penting bagi jurnalis untuk memastikan bahwa dasar pemikiran dalam interpretasi data hingga menghasilkan kesimpulan adalah benar. Pada tahap publikasi hasil analisis data jurnalis harus memastikan telah melakukan verifikasi hasil analisis serta mampu menunjukkan relevansinya dengan realitas yang diangkat.


Selain itu cara memvisualisasikan data dan persoalan privasi terkait data perlu dipertimbangkan secara khusus. Mencermati pertimbangan etis dalam setiap tahap kerja jurnalisme data tersebut dapat dikatakan bahwa dalam praktik jurnalisme data jurnalis sudah melakukan setidaknya tiga diantara delapan peran jurnalis dalam menghadapi tsunami informasi menurut Bill Kovach dan Rosenstiel. Pertama, sebagai authenticator jurnalis diperlukan untuk memeriksa otentisitas suatu informasi sebelum sampai pada khalayak. Kedua sebagai sense maker, di tengah terjangan gelombang informasi peran jurnalis dibutuhkan untuk menjelaskan suatu informasi benar atau malah sebaliknya. Ketiga, sebagai investigator jurnalis harus mampu melakukan investigasi untuk menyajikan kebenaran di balik suatu peristiwa.


Ketika seorang jurnalis tidak sekedar andal dalam menghasilkan produk jurnalisme data namun juga mempertimbangkan sungguh rambu-rambu etika di setiap tahapan jurnalisme data maka diharapkan kebenaran yang ditemukan pun dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Karya jurnalistik semacam inilah yang dapat menjadi harapan bagi jurnalisme ideal di tengah tsunami infromasi.


Editor: Naurissa Biasini

18 views0 comments
 

©2020 by KOMPRESS. Proudly created with Wix.com